Sabtu, 02 Juni 2012

HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN MINAT BACA SISWA

HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN MINAT BACA SISWA


A. Pendahuluan

Sistem dan mutu pendidikan di negara kita saat ini sedang menghadapi berbagai masalah yang akhir-akhir ini selalu diungkap di beberapa media. Masalah yang paling menonjol adalah rendahnya mutu pendidikan kita sehingga masalah ini banyak mendapat sorotan, baik dari masyarakat pendidikan itu sendiri maupun masyarakat luar.

Rendahnya mutu pendidikan maka menyebabkan kualitas lulusan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan patut dipertanyakan oleh masyarakat. Hal ini bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri, yakni pendidikan sebagai pilar utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu usaha dalam rangka mengembangkan kepribadian dan kemampuan baik di dalam maupun di luar sekolah serta berlangsung seumur hidup. Dalam berbagai diskusi tentang pendidikan, seringkali dibahas dan disinggung mengenai mutu pendidikan. Mutu pendidikan yang dimaksud adalah peningkatan prestasi belajar peserta didik dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Pencapaian tujuan pendidikan yang dalam hal ini pencapaian prestasi belajar peserta didik sulit tercapai jika hanya didukung oleh faktor-faktor eksternal, seperti profesionalisme guru, kelengkapan sarana belajar, keberadaan sumber belajar dan sebagainya, tanpa didukung oleh faktor-faktor internal, seperti minat dan motivasi peserta didik untuk mempelajari atau membaca materi yang akan maupun yang telah diberikan oleh guru. Upaya peningkatan minat belajar peserta didik difokuskan pada pelaksanaan proses belajar mengajar, dengan mengasumsikan bahwa untuk meningkatkan minat belajar, metode mengajar perlu diperbaiki dan lebih profesional. Hasil pembelajaran yang optimal dapat diperoleh bila pengelola pengajaran di sekolah dilakukan secara profesional, termasuk kemampuan para guru melakukan berbagai pendekatan yang variatif dalam mengajar sehingga peserta didik merasa tertarik dan terpanggil untuk lebih giat belajar khususnya membaca.

Secara khusus pada pelajaran membaca untuk siswa yang dipentingkan adalah melihat dan mendengarkan dengan baik bacaan yang diberikan. Kegiatan membaca siswa sangat membantu dan menunjang kegiatan belajar untuk mata pelajaran yang lain di sekolah. Berdasarkan hal tersebut, minat baca sangat berarti khususnya bagi peserta didik dalam meningkatkan pengertian, pemahaman maupun pengetahuan secara umum tentang pelajaran yang diberikan.

Secara umum bahwa salah satu sarana dan wadah dalam upaya peningkatan pengetahuan dalam rangka menguasai informasi dan perkembangan teknologi adalah kegiatan membaca. Kegiatan membaca ini merupakan penulusuran pengalaman pembelajaran melalui bahan bacaan. Manfaat dari kegiatan membaca telah banyak dikemukakan oleh para pakar, namun kegiatan membaca sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang membuat seseorang terhalang bahkan tidak melakukan kegiatan ini.

Berdasarkan uraian di atas maka dalam tulisan ini dikemukakan beberapa faktor penyebab rendahnya minat baca siswa SMP, dalam hal ini akan dilihat hubungan antara motivasi belajar dengan minat baca siswa SMP.

B. Pengertian Membaca

Hodgson (Tarigan, 1994 : 7) mengatakan bahwa membaca adalah merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan satu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka kesan yang tersurat dan tersirat akan tertangkap atau dipahami dan proses membaca ini tidak akan terlaksana dengan baik.

Beberapa definisi tentang membaca yang dikemukakan para ahli, antara lain :

a. Membaca adalah proses psikologis untuk menentukan arti kata-kata tertulis. Membaca melibatkan penglihatan, jarak mata, pembicaraan batin, ingatan, pengetahuan mengenai kata yang dapat dipahami, dan pengalaman pembacanya (Cole dalam Wiryodijoyo, 1985 : 189).

b. Membaca adalah proses mendapatkan arti kata-kata tertulis (Heilman dalam Wiryodijoyo, 1989 : 1)

c. Membaca adalah memetik arti serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tertulis (Finachiro dan Bonomo dalam Tarigan, 1985 : 8)

d. Membaca adalah proses membentuk arti teks-teks tertulis (Anderson, Richardo dalam Wiryodijoyo, 1989 : 1)

e. Membaca adalah memetik proses membentuk arti dari teks-teks yang terkandung dalam tertulis. (Finachiro dan Bonomo dalam Tarigan, 1985 : 8)

Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu proses berpikir yang termasuk didalamnya menceritakan, menafsirkan arti dan lambang-lambang tertulis dengan melibatkan penglihatan gerak mata, pembicara batin, dan ingatan.

C. Pengertian Minat Baca

Pengertian minat pada pembahasan ini lebih diarahkan untuk memaknai pengertian minat membaca, yaitu minat yang melekat pada diri siswa untuk membaca dengan baik sebagai hasil dari suatu respon psikis. Jadi, minat yang dimaksud adalah minat untuk membaca sebagai respon yang diberikan dalam kapasitasnya sebagai siswa yang dituntut untuk senantiasa membaca. Sedangkan menurut Poerwadarminta (1996) menjelaskan bahwa minat adalah perhatian kesukaan, atau kecenderungan hati kepada sesuatu, atau suatu keinginan. Jadi pengertian yang umum adalah usaha kecil menuju pelaksanaan sesuatu keinginan.

Dalam minat terdapat unsur aktif, seperti yang dikemukakan oleh Patty, (1982), yaitu:

Minat merupakan usaha aktif menuju kepada pelaksanaan suatu tujuan, dimana tujuan itu pada umumnya merupakan titik akhir dari pada gerakan menuju ke suatu arah untuk melaksanakan tujuan itu sendiri sehingga merupakan usaha dari pelaksanaan suatu tujuan.

Pengertian lain ditulis oleh Slameto (1995) bahwa minat merupakan suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan kepada suatu hal atau objek, atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Dengan demikian, minat adalah rasa ketertarikan terhadap sesuatu atau objek tertentu. Seseorang akan berminat pada suatu hal, aktivitas atau objek, jika menyukai atau mempunyai kepentingan terhadap sesuatu tersebut. Dalam hal membaca, siswa berminat untuk membaca jika merasa bahwa membaca adalah sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi dirinya baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.

Adapun pandangan lain tentang minat dijelaskan oleh Sukardi (1988) bahwa “Minat adalah perangkat mental yang dapat mengarahkan seseorang untuk sampai pada suatu pilihan”. Keberadaan minat seseorang dan kekuatannya hanya dapat dideteksi apabila sudah terwujud dalam bentuk perasaan atau sikap. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Soemanto (1980), yaitu “minat adalah sikap yang terus menerus menyertai perhatian seseorang dalam memilih objek yang menarik, perasaanlah yang menentukan aktifitas kegemaran bagi seseorang sehingga melakukan sesuatu dan motivasi tertentu yang mengarahkan perilaku ke arah sasaran atau arah tujuan yang diinginkan”.

Dari berbagai pengertian minat yang telah disebutkan di atas, terdapat sifat-sifat yang tersirat dan tersurat dalam minat sebagai berikut:

a. Diarahkan pada suatu tujuan yang berarti usaha untuk mendapatkan keharmonisan hidup.

b. Kesesuaian dengan tujuan meskipun tujuan itu tidak diketahui dan tidak dapat dicapai dengan segera.

c. Bersifat sejenis dan tidak bersifat individual.

d. Bersifat pembawaan, namun tetap dapat dikembangkan.

e. Tingkatan yang lebih tinggi dalam minat adalah kemauan, karena sudah mengarah kepada usaha menuju pelaksanaan.

Berdasarkan sifat-sifat minat tersebut, minat siswa yang dimaksudkan di sini adalah minat pada derajat kemauan. Artinya, minat siswa harus sampai kepada tingkat pelaksanaan berdasarkan kemauannya sendiri. Seluruh pengertian-pengertian tentang minat yang telah dikemukakan, maka pengertian minat yang dibahas di sini adalah minat siswa dalam belajar khususnya minat dalam membaca baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah.

Sesuai dengan pengertian minat yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa pada hakikatnya minat merupakan kecenderungan dan kemauan seseorang terhadap sesuatu yang menarik perhatiannya sehingga menimbulkan perasaan suka dan senang terhadap sesuatu, salah satu diantaranya adalah aktivitas membaca. Aktivitas membaca menurut Porwadarminta (1996) diartikan sebagai “melihat tulisan dan mengerti atau dapat melisankan apa yang tertulis”.

Berdasarkan pengertian minat dan membaca maka minat membaca dapat diartikan sebagai adanya kecenderungan, perhatian dan keinginan untuk melihat tulisan atau bacaan, lebih mengetahui atau mendalami apa yang dibaca dengan baik. Minat mempunyai pengaruh yang besar terhadap membaca, karena bila bahan bacaan atau tulisan yang akan dibaca tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan membacanya dengan sepenuh hati dan perasaannya, karena tidak ada daya tarik dari bahan bacaan tersebut.

Menurut Meckel (Abd. Rahman, dkk., 1985) membedakan minat baca menjadi dua yaitu:

1. Minat baca spontan: Kegiatan membaca yang dilakukan atas kemauan, inisiatif pribadi sendiri tanpa terpengaruh dari pihak luar atau pihak lain.

2. Minat baca terpola ialah kegiatan membaca yang dilakukan sebagai hasil atau akibat pengaruh langsung dan disengaja melalui serangkaian tindakan dan program yang terpola, terutama kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Berdasarkan pengertian minat baca yang disebutkan di atas, maka minat pada dasarnya adalah suatu kecenderungan, keinginan, kemauan dan motivasi yang tinggi untuk senantiasa melakukan kegiatan membaca, baik yang muncul dari minat baca spontan maupun minat baca terpola.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Baca Siswa

Secara umum, terdapat dua faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya minat baca siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, seperti pembawaan, kebiasaan dan ekspresi diri. Sementara faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, baik dari lingkungan keluarga, tentangga maupun lingkungan sekolah. Faktor eksternal ini mempengaruhi adanya motivasi, kemauan, dan kecenderungan untuk selalu membaca.

Dalam rangka menumbuhkan minat membaca sebagai suatu kebiasaan pada siswa, maka proses terbentuknya kebiasaan membaca memakan waktu yang cukup lama, karena proses terbentuknya minat baca seseorang selain dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah disebutkan diatas, juga secara khusus dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:

1). Faktor sosiologis

Lingkungan rumah tangga dapat menjadi faktor pendorong dan penghambat timbulnya minat baca seseorang. Dengan tersedianya beberapa bahan bacaan dan berbagai tulisan dalam lingkungan rumah tangga akan merangsang daya visual dan motoris anak-anak untuk sekedar mengenali buku, dan untuk taraf selanjutnya akan tertarik untuk membacanya. Demikian halnya pada lingkungan sekolah dan suasana lingkungan sekolah yang kondusif akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan akan mendorong timbulnya minat baca siswa. Lingkungan masyarakat juga dapat mendorong terciptanya siswa gemar membaca, apabila masyarakat tersebut sudah terbiasa memanfaatkan kesempatan untuk membaca, misalnya pada saat menunggu di stasiun, bus dan sebagainya. Jika siswa berada pada lingkungan sekelompok masyarakat yang gemar membaca, maka siswa tersebut juga akan tertarik dan terbiasa untuk selalu membaca.

2). Faktor psikologis

Siswa dapat menemukan kebutuhan dasarnya melalui bahan bacaan jika topik, isi, pokok persoalan, tingkat kesulitan dan penyajiannya sesuai dengan karakter individu mereka. Berdasarkan faktor psikologis ini, maka setiap siswa memiliki kebutuhan dan kepentingan individual yang berbeda dengan siswa lain. Perbedaan itu akan berpengaruhi pilihan dan minat membaca individu, sehingga setiap individu memiliki bahan bacaan sesuai dengan karakter, minat dan kepentingannya sendiri.

1. Tujuan yang hendak dicapai

Tujuan untuk membaca sangat diperlukan bagi siswa dalam rangka meningkatkan minat baca. Salah tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan dari buku atau bahan-bahan yang tertulis lainnya. Untuk memahami suatu mata pelajaran tertentu, maka siswa dituntut untuk belajar. Informasi yang mendukung dalam belajar adalah berupa bahan-bahan yang tertulis yang mengharuskan kegiatan membaca sehingga apa yang dibutuhkan dapat tercapai.

2. Tersedianya sarana perpustakaan

Perpustakaan merupakan sarana yang mengantar siswa ke dunia yang lebih luas, sebagai media yang dapat menghubungkan segala peristiwa pada masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Keberadaan perpustakaan sangat diperlukan karena perpustakaan dapat memberikan segala kebutuhan minat siswa, khususnya minat siswa dalam membaca koleksi-koleksi perpustakaan tersebut.

3. Bentuk pelayanan

Koleksi perpustakaan harus ditata rapi pada tempatnya agar lebih mudah dimanfaatkan oleh pembaca. Pelayanan yang baik akan berimplikasi pada meningkatnya minat baca siswa untuk melakukan kegiatan membaca. Pelayanan yang dimaksudkan di sini adalah sikap staf perpustakaan yang ramah, berpengetahuan luas dan mempunyai sikap informasi dari setiap jenis pustaka. Pelayanan dapat dikatakan baik jika apa yang ditargetkan dari sasaran pokok dari pelayanan tercapai yaitu meningkatnya minat baca siswa.

4. Kualitas koleksi perpustakaan

Kualitas koleksi perpustakaan sangat mempengaruhi minat, kemauan dan kebiasaan siswa untuk selalu masuk perpustakaan. Jika suatu perpustakaan telah berhasil mengoleksi buku-buku bacaan berkualitas, membangun opini dan mempengaruhi siswa untuk masuk perpustakaan maka kemungkinan besar siswa akan terbiasa membaca dan pengetahuannya akan semakin bertambah.

Minat membaca merupakan salah satu karakter yang harus dibentuk dalam diri siswa karena bagaimanapun kegiatan membaca merupakan bagian penting dalam belajar. Berdasarkan hal tersebut maka guru harus memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para siswa untuk mencari bahan-bahan bacaan yang berkualitas guna mengembangkan penguasaan bahasa dan meningkatkan pengetahuan mereka. Keaktifan membaca akan membantu anak didik dalam cara dan metode belajar yang efektif dan efisien, baik dengan berkelompok maupun secara individu.

D. Penutup

Kegiatan membaca merupakan bagian dari proses belajar yang membangun pemahaman baik dari teks yang tertulis maupun dari lingkungan belajar siswa. Hal ini berarti kegiatan membaca berkaitan erat dengan bahan-bahan bacaan, fasilitas dan lingkungan belajar siswa. Oleh karena itu dapat diperkirakan bahwa terdapat hubungan positif antara lingkungan belajar dengan minat baca siswa.

Siswa dalam melakukan kegiatan membaca sangat membutuhkan dorongan, rangsangan, motivasi dan penguatan. Pemberian penguatan membaca pada siswa akan memberikan dampak positif, yaitu membuat siswa terdorong untuk mengulangi kegiatan membaca secara kontinu. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diduga bahwa terdapat hubungan positif antara penguatan membaca dengan minat baca siswa.



DAFTAR PUSTAKA

Patty. 1982. Pengantar psikologi Umum. Surabaya: Usaha Nasional.

Poerwadarminta, W. J. S. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Rahman, Abd. 1985. Minat Baca SD di Jawa Timur. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Soemanto, Wasty. 1989. Pendidikan Wiraswasta. Jakarta: Bina Aksara.

Sukardi, Dewa Ketut. 1988. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Bina Aksara.

Tarigan, 1980. Membaca I. Depdikbud. Jakarta.

Tarigan, dkk. 1985. Membaca Ekspresif. Bandung: Angkasa.

Wiryodijoyo, Col. 1989. Membaca Strageti Pengantar Tekniknya. Jakarta: Depdikbud.

Wiryodijoyo, Hieman. 1985. Mem


DEFENISI DAN KLASIFIKASI MEDIA

Definisi dan Klasifikasi Media

Media merupakan kata jamak dari kata medium yang berasal dari bahasa Latin medium yang berarti antara. Pada umumnya, definisi media selalu didasarkan pada proses komunikasi. Media merupakan perantara bagi pengirim (sender) dan penerima (receiver) dalam melakukan pertukaran informasi.

Media mempunyai beberapa karakteristik yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk membuat klasifikasi. Karakteristik tersebut yaitu:

    kemampuan dalam mempresentasikan gambar
    faktor warna
    faktor gerak
    faktor bahasa
    faktor keterkaitan antara unsur gambar dan suara.

Semua karakteristik ini dapat membedakan jenis media yang satu dengan jenis media yang lain. Pemilihan jenis media yang akan digunakan untuk keperluan komunikasi informasi sebaiknya mempertimbangkan karakteristik dan klasifikasi media.

Kontribusi media dalam proses komunikasi informasi adalah sebagai berikut:

    informasi yang dikomunikasikan menjadi lebih standar,
    penyajian informasi dapat menjadi lebih menarik,
    kualitas penerimaan informasi menjadi lebih efektif,
    memungkinkan terjadinya proses belajar secara individual.

Tujuan Pemanfaatan Media

Pemanfaatan media di perpustakaan harus diarahkan untuk mencapai misi pelayanan yang meliputi pelayanan program pendidikan, informasi, kebudayaan, hobi, dan rekreasi. Pemanfaatan media memiliki beberapa tujuan yaitu: untuk memotivasi perilaku tertentu (to motivate), menyampaikan informasi (to inform) dan pembelajaran (to instruct).

Media memungkinkan pemakainya dapat mengatasi hambatan yang berupa ruang dan waktu dalam memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan. Media tertentu seperti media audio visual dapat memberikan pengalaman belajar langsung kepada pemakainya. Medium televisi dapat mengungkapkan peristiwa yang berlangsung di tempat yang cukup jauh. Medium lain seperti halnya film dan video memiliki potensi dalam mengungkapkan kembali peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.

Perpustakaan dapat memperoleh koleksi media melalui dua cara yaitu: (a) membeli dari produsen yang khusus memproduksi media tertentu dan (b) memproduksi sendiri media sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jika membeli dari produsen media tertentu, maka perpustakaan perlu mempertimbangkan beberapa faktor yaitu: isi pesan/informasi, tujuan, kesesuaian, biaya, kualitas teknis, faktor pemakaian, uji coba dan validasi.

Medium overhead transparansi, misalnya memerlukan adanya faktor penunjang seperti aliran listrik dengan kapasitas yang sesuai, proyektor dan layar. Jika sebuah perpustakaan ingin membeli atau menggunakan medium tertentu, maka faktor penunjang untuk pemanfaatan medium tersebut perlu disediakan.

Penggunaan media dapat mengatasi masalah “ruang” dalam upaya individu memperoleh pengetahuan dan informasi. Pengetahuan dan informasi tentang suatu objek yang berada pada jarak yang jauh dapat dikomunikasikan melalui media tertentu. Medium slide suara, contohnya, dapat mengkomunikasikan informasi tentang Candi Borobudur pada pemirsa yang berada pada lokasi geografis yang cukup jauh.

MEDIUM AUDIO

Jenis dan Karakteristik Media Audio

Medium audio telah digunakan secara luas untuk merekam informasi yang penting. Perkembangan teknologi yang pesat pada medium audio dapat memberikan keuntungan yang besar bagi pemakainya. Media audio dapat dipergunakan untuk keperluan belajar secara berkelompok maupun individual. Media audio yang umum digunakan yaitu piringan hitam, compact disc (CD), open reel, dan kaset audio.

Kaset audio merupakan medium yang paling populer digunakan oleh pemirsa. Perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) dari medium ini berbentuk ringkas dan mudah dibawa (portable). Di samping itu medium ini juga mudah digunakan.

Karakteristik utama dari medium audio adalah merekam dan menyajikan unsur suara kepada pemirsanya. Oleh karena itu, media ini lebih tepat jika digunakan untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi yang akan disampaikan melalui indera pendengaran.
Pengembangan dan Produksi Media Audio

Program kaset audio merupakan medium yang relatif mudah diproduksi, namun demikian memerlukan persiapan yang matang. Untuk memproduksi sebuah program audio diperlukan adanya naskah. Dalam hal ini naskah berperan sebagai pedoman bagi seluruh kerabat kerja yang terlibat dalam kegiatan produksi. Sebuah naskah audio harus berisi informasi yang akan disampaikan disertai dengan pendekatan yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi tersebut. Naskah biasanya berisi informasi tentang alur cerita, pelaku, musik, dan efek suara, dan narasi yang akan dikomunikasikan kepada pemirsa.

Produksi program kaset audio dapat dilakukan melalui cara yang sederhana sampai dengan cara yang kompleks. Peralatan yang diperlukan untuk merekam sebuah program kaset audio yaitu:

    alat perekam berupa perekam kaset audio dan reel-to-reel recorder dan mikrofon (microphone);
    kaset audio (audiotape cassette) yang merupakan tempat suara direkam.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam produksi program kaset audio adalah upaya untuk mengurangi unsur suara lain yang tidak diperlukan (noise) terekam ke dalam program. Usahakan untuk mengurangi noise semaksimal mungkin agar unsur suara dapat terdengar jelas jika diputar ulang (playback).

MEDIUM TRANSPARANSI SEBAGAI MEDIUM YANG DI TRANSPARANSIKAN

Medium Transparansi

Medium transparansi merupakan salah satu media yang efektif untuk mengkomunikasikan informasi. Untuk menggunakan medium ini diperlukan adanya perangkat keras (hardware) yang berupa overhead projector. Medium transparansi dapat digunakan untuk mengkomunikasikan informasi berupa teks, data faktual, dan gambar. Di samping itu medium ini dapat digunakan untuk mengkomunikasikan informasi baik kepada kelompok kecil maupun kelompok besar pemirsa.

Bagi penyaji informasi, penggunaan medium transparansi akan memberikan beberapa keuntungan yaitu:

    Penjelasan informasi dapat menjadi lebih efektif melalui teks, gambar dan diagram.
    Penyaji dapat melakukan kontrol terhadap kecepatan penyampaian informasi.
    Penyaji dapat mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi secara bertahap.
    Informasi yang terdapat dalam medium transparansi dapat difoto copy.
    Dapat menggunakan warna untuk memperjelas komunikasi informasi.

Pemanfaatan Medium Transparansi

Untuk menayangkan medium transparansi ada tiga teknik yang dapat dipakai yaitu:

    teknik penayangan transparansi tunggal (single transparancy)
    teknik penayangan secara tumpuk (overlay transparancy)
    teknik penayangan buka tutup (masking transparancy).

Transparansi tunggal digunakan untuk menayangkan informasi, konsep dan pengetahuan dalam satu lembar transparansi. Transparansi tumpuk (overlay) digunakan untuk menyajikan informasi secara bertahap (gradual). Teknik penayangan transparansi secara tumpuk akan lebih tepat jika digunakan untuk menjelaskan tentang proses atau prosedur dan data tertentu yang menggambarkan adanya proses perkembangan atau tahapan. Transparansi buka tutup (masking) akan lebih tepat jika digunakan untuk menayangkan konsep yang mengandung perbedaan konsep di dalamnya.

Dalam membuat medium transparansi ada beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu:

    jangan terlalu banyak memuat informasi dalam medium transparansi
    gunakan huruf yang mudah dibaca dengan ukuran yang memadai
    gunakan lembaran transparansi yang bening dan bersih
    transparansi yang ditayangkan harus disusun secara sistematis.

MEDIUM SLIDE

Karakteristik Medium Slide

Program slide merupakan medium yang memiliki beberapa kesamaan dengan medium transparansi. Untuk menggunakan program slide diperlukan adanya sebuah proyektor yang berfungsi memproyeksikan gambar ke layar. Medium slide mampu memproyeksikan program lebih besar ke dalam layar. Oleh karena itu medium ini sangat tepat jika digunakan untuk keperluan penyajian informasi atau presentasi pada pemirsa dalam kelompok yang tidak terlalu besar. Namun demikian medium ini dapat juga digunakan untuk keperluan belajar secara individual. Untuk menggunakan medium slide ini tidak diperlukan ruangan yang gelap total.

Penggunaan medium slide dalam mengkomunikasikan pengetahuan dapat memberikan keuntungan bagi pemakainya, yaitu:

    dapat menayangkan informasi secara lebih realistik. Gambar yang ditampilkan akan terlihat mendekati objek yang sebenarnya;
    dapat mengkomunikasikan informasi secara sistematik dan fleksibel;
    mudah digunakan dan disimpan untuk berbagai keperluan presentasi;
    dapat digunakan untuk keperluan belajar baik secara individual maupun kelompok.

Selain memiliki kelebihan, medium slide ini juga memiliki keterbasan, yaitu:

    medium slide akan merepotkan pemakainya jika tidak dipersiapkan sebelumnya;
    medium slide memerlukan tempat dan perawatan khusus agar tidak mudah rusak.

Perencanaan dan Produksi Medium Slide

Program slide yang efektif mampu mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa. Untuk memproduksi sebuah program slide yang efektif diperlukan adanya proses perencanaan yang meliputi beberapa tahap seperti:

    tujuan yang akan dicapai,
    karakteristik pemirsa,
    isi pesan dan informasi,
    unsur gambar (visual) yang akan ditayangkan,
    unsur suara (audio) yang akan menyertai.

Untuk memproduksi sebuah program slide diperlukan adanya beberapa tahap produksi, yaitu:

    pemotretan (perekaman gambar),
    memproses film,
    membingkai film slide,
    menyunting atau memilih film slide yang akan ditayangkan,
    merekam suara ke dalam kaset audio
    uji coba program terhadap calon pemirsa.

MEDIUM VIDEO
Peran Medium Video Dalam Mengkomunikasikan Informasi

Medium video merupakan medium audio visual yang dapat mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa. Medium ini memiliki kesamaan dengan medium film yaitu mampu menayangkan informasi dan pengetahuan lewat perpaduan antara unsur gambar (visual) dan unsur suara (audio). Kemampuan ini memungkinkan medium video dapat menayangkan objek dan peristiwa menyerupai keadaan yang sesungguhnya.

Dalam mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa medium video memiliki beberapa kelebihan yaitu:

    dapat menambah wawasan pengetahuan,
    menyediakan informasi yang berguna,
    merangsang timbulnya minat tertentu,
    membantu pemirsa memberikan respon tertentu sesuai dengan yang diinginkan,
    mengatasi hambatan fisik dalam memperoleh pengetahuan dan informasi,
    mendorong upaya pemecahan masalah,
    membantu memperbaiki kesalahan dalam proses belajar.

Selain memiliki kelebihan, medium video juga memiliki beberapa keterbatasan dalam mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa. Keterbatasan tersebut yaitu:

    penyajian informasi berlangsung dengan kecepatan dan tetap,
    dapat menimbulkan kesalahan dalam melakukan interpretasi,
    memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk memproduksi sebuah program.

Medium video dapat dipergunakan untuk mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa baik dalam kelompok maupun individu. Apabila diproduksi dengan standar tertentu medium ini dapat ditayangkan secara luas menjadi sebuah program televisi yang disiarkan (broadcasted television).

Pemilihan dan Produksi Program Video

Medium video telah lama digunakan sebagai sarana alternatif untuk memperoleh informasi dan pengetahuan bagi pengguna jasa perpustakaan. Perpustakaan dapat melakukan pengumpulan (koleksi) program video melalui dua cara yaitu: membeli dari perusahaan video komersial dan memproduksi sendiri sesuai dengan keperluan. Dalam membeli program video, perpustakaan perlu mempertimbangkan beberapa faktor yaitu:

    misi dan tujuan perpustakaan,
    karakteristik pengguna jasa perpustakaan,
    pendekatan pembelajaran yang digunakan,
    hambatan yang akan dihadapi dalam menggunakan program video.

Dalam memproduksi sebuah program video diperlukan beberapa tahap yaitu:

    perumusan gagasan,
    penulisan naskah dan storyboard,
    perekaman gambar ke dalam pita video (videotape),
    perekaman suara yang terdiri atas narasi, musik dan efek suara,
    penyuntingan gambar dan suara (editing),
    penggandaan program (duplicating).

Kemampuan perpustakaan dalam memproduksi program video bergantung kepada beberapa faktor yaitu:

    sumber daya manusia yang mampu memproduksi program video;
    memiliki peralatan produksi video yang memadai seperti kamera, VCR, lampu shoting, mikrofon untuk merekam suara, dan kaset video;
    memiliki naskah program video yang akan diproduksi;
    untuk mengkoleksi program video diperlukan biaya yang tidak sedikit. Harga program video relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan medium lainnya.

MEDIA YANG TIDAK DIPROYEKSIKAN

Gambar Diam dan Bahan Grafis

Bahan visual yang tidak diproyeksikan dapat dimanfaatkan sebagai medium untuk mengkomunikasikan informasi. Medium ini merupakan medium yang relatif murah jika dibandingkan dengan bahan visual yang diproyeksikan seperti transparansi, slide, dan film. Untuk tujuan mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi, medium ini mudah diperoleh. Berbagai sumber seperti majalah, koran, jurnal, dan buku teks sering memuat medium ini.

Bahan-bahan visual ini merupakan media dua dimensi yang memerlukan proses pembesaran untuk digunakan terhadap sekelompok pemirsa. Banyak cara dan teknik yang dapat dipergunakan untuk membesarkan bahan-bahan visual, misalnya dengan menggunakan mesin foto copy dan reproduksi.

Bahan-bahan visual yang tidak diproyeksikan dapat diklasifikasikan menjadi:

    gambar diam (still pictures),
    bahan-bahan grafis (graphics materials),
    realia,
    model.

Gambar diam yang dimaksud dalam modul ini adalah gambar foto atau yang menyerupai gambar foto dan gambar yang merupakan representasi dari suatu objek dan peristiwa. Bahan-bahan grafis yang dapat dipergunakan sebagai media untuk mengkomunikasikan informasi meliputi: gambar, diagram, chart, grafik, poster, dan kartun.
Disain dan Produksi Gambar Diam dan Bahan Grafis

Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam memanfaatkan medium visual (poster, foto, diagram, dan chart) cara pertama yaitu memproduksi sendiri berdasarkan rancangan (design) yang telah dibuat sebelumnya. Cara yang kedua dilakukan dengan memanfaatkan bahan yang ada, yang dapat diperoleh dari buku, jurnal, majalah, dan bahan cetak lainnya.

Untuk dapat menggunakan medium visual secara efektif ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu:

    tujuan belajar (objectives)
    pemirsa (audience)
    biaya produksi (production cost)
    peralatan dan fasilitas produksi.

    Dalam membuat medium visual perlu juga diterapkan beberapa prinsip desain visual agar informasi yang ada di dalamnya mudah dipahami dan menarik untuk dipelajari. Prinsip desain visual terdiri atas:
    kesederhanaan
    kesatuan
    penekanan
    keseimbangan

MEDIUM TIGA DIMENSI

Realia dan Model Diorama

Realia dan Model merupakan alat penyampai informasi yang mempunyai sifat yang hampir sama. Perbedaan antara kedua medium tersebut terletak pada kenyataaan bahwa model digunakan sebagai medium informasi apabila tidak memungkinkan menghadirkan realia. Realia adalah medium informasi yang bentuk dasarnya adalah benda-benda nyata atau benda yang sebenarnya sedangkan suatu model dibuat sebagai contoh atau representasi dari suatu realia. Diorama adalah medium yang menampilkan realia dan model serta ditambah dengan medium visual sebagai latar belakangnya. Diorama merupakan sebuah pameran statis yang didesain untuk menggambarkan suatu pemandangan dalam kehidupan nyata yang terjadi di masa lalu, kini dan yang akan datang dalam bentuk tiga dimensi.

Kit, Multimedia, dan Simulasi

Sebagai alat penyampai informasi, multimedia kit banyak digunakan dalam proses belajar mengajar khususnya untuk bidang ilmu pengetahuan yang memerlukan keahlian khusus, misalnya praktikum IPA, Matematika, dan teknik. Pada umumnya kit merupakan paket yang berisi berbagai jenis media, misalnya medium cetak, filmstrip, realia, yang saling berhubungan dengan satu topik tertentu. Medium ini didesain untuk digunakan pengguna individual atau kelompok yang memiliki kebutuhan informasi yang sama. Kit multimedia dapat digunakan di kelas, di ruang perpustakaan dan di lokasi lain, dengan atau tanpa supervisi staf perpustakaan. Games dan simulasi adalah media informasi yang berbentuk suatu aktivitas, disusun berdasarkan aturan-aturan khusus dan memiliki parameter tertentu. Tujuannya adalah untuk menyelidiki dan merasakan aspek-aspek tertentu dari suatu prosedur, kejadian atau situasi tertentu. Dalam aktivitas ini, partisipan terlibat secara aktif dan proses belajar dikendalikan oleh mereka sendiri. Akibatnya, rasa mandiri dan tanggung jawab juga ikut terbangun. Di samping itu, motivasi dan keinginan belajar pun akan meningkat.

MEDIUM CETAK

Medium Cetak

Media cetak merupakan sekumpulan bahan-bahan informasi yang di cetak di atas kertas, dengan maksud untuk mencapai tujuan seperti memotivasi tingkat perhatian dan perilaku seseorang, menyampaikan informasi dan pengetahuan serta memberikan instruksi.

Kelebihan yang menonjol dari medium cetak adalah praktis penggunaannya dan lebih ekonomis. Sedangkan kelemahan medium cetak adalah tidak dapat menampilkan gerak dan suara seperti halnya pada medium audio-video dan kelemahan lain yaitu keterbatasan di dalam mengolah isi informasi karena tergantung kemampuan yang dimiliki oleh pembaca.

Secara umum fungsi medium cetak dapat dibagi menjadi tiga klasifikasi yaitu sebagai alat bantu belajar, bahan pelatihan, dan bahan informasi.

Penyimpanan Medium Cetak

Agar medium cetak tahan lama dan memudahkan bagi pengguna untuk menelusur kembali, maka perlu perhatian khusus dalam penyimpanannya.

Untuk memudahkan Anda dalam hal penyusunan suatu karya tulis, sebaiknya Anda perhatikan hal-hal sebagai berikut:

    Isi tulisan berupa ide, fakta, peristiwa
    Setiap ide diutarakan dalam suatu kalimat yang cepat dimengerti
    Kata-kata yang dipergunakan harus konsisten
    Pegunakanlah kalimat-kalimat yang pendek
    Tata bahasa dan tanda baca sesuai dengan peraturan yang ada
    Glosari perlu disisipkan dalam karya tulis tersebut.

PENYIMPANAN DAN PEMELIHARAAN MEDIA DAN PENUNJANG

Menyimpan Media di Dalam Perpustakaan

Dalam mengelola perpustakaan yang baik, di samping koleksi media informasi secara lengkap, tentunya hal yang sangat penting di sini adalah bagaimana sistem penyimpanan dan pemeliharaan media informasi tersebut. Semakin baik sistem penyimpanan dan pemeliharaannya maka akan memperkecil tingkat kerusakan yang mungkin timbul, serta membuat media informasi yang ada selalu siap pakai dan lebih tahan lama.

Ada dua sistem penyimpanan media informasi yaitu sistem akses terbuka dan tertutup. Kedua sistem tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk itu penggunaan sistem ini sangat tergantung dari kondisi perpustakaan yang ada. Sistem ini juga dapat digunakan secara terpadu. Tentunya penyesuaian-penyesuainan perlu dilakukan dalam rangka mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi yang diinginkan, sesuai dengan situasi dan kondisi serta lingkungan perpustakaan.

Pemeliharaan dan Alat-Alat Penunjang

Dalam menyimpan dan memelihara media informasi akan timbul berbagai masalah yang disebabkan oleh keanekaragaman media informasi yang ada. Oleh karena itu perhatian khusus harus diberikan pada faktor kerusakan, kehilangan, keamanan, dan lain-lain. Selanjutnya, yang juga harus mendapat perhatian karena bisa menjadi penyebab utama kerusakan media informasi adalah pemeliharaan alat-alat penunjang seperti monitor TV, sekering, microphone dan juga lingkungan perpustakaan itu sendiri.

PEMANFAATAN MEDIA

Definisi dan Klasifikasi Media

Media merupakan kata jamak dari kata medium yang berasal dari bahasa Latin medium yang berarti antara. Pada umumnya, definisi media selalu didasarkan pada proses komunikasi. Media merupakan perantara bagi pengirim (sender) dan penerima (receiver) dalam melakukan pertukaran informasi.

Media mempunyai beberapa karakteristik yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk membuat klasifikasi. Karakteristik tersebut yaitu:

    kemampuan dalam mempresentasikan gambar
    faktor warna
    faktor gerak
    faktor bahasa
    faktor keterkaitan antara unsur gambar dan suara.

Semua karakteristik ini dapat membedakan jenis media yang satu dengan jenis media yang lain. Pemilihan jenis media yang akan digunakan untuk keperluan komunikasi informasi sebaiknya mempertimbangkan karakteristik dan klasifikasi media.

Kontribusi media dalam proses komunikasi informasi adalah sebagai berikut:

    informasi yang dikomunikasikan menjadi lebih standar,
    penyajian informasi dapat menjadi lebih menarik,
    kualitas penerimaan informasi menjadi lebih efektif,
    memungkinkan terjadinya proses belajar secara individual.

Tujuan Pemanfaatan Media

Pemanfaatan media di perpustakaan harus diarahkan untuk mencapai misi pelayanan yang meliputi pelayanan program pendidikan, informasi, kebudayaan, hobi, dan rekreasi. Pemanfaatan media memiliki beberapa tujuan yaitu: untuk memotivasi perilaku tertentu (to motivate), menyampaikan informasi (to inform) dan pembelajaran (to instruct).

Media memungkinkan pemakainya dapat mengatasi hambatan yang berupa ruang dan waktu dalam memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan. Media tertentu seperti media audio visual dapat memberikan pengalaman belajar langsung kepada pemakainya. Medium televisi dapat mengungkapkan peristiwa yang berlangsung di tempat yang cukup jauh. Medium lain seperti halnya film dan video memiliki potensi dalam mengungkapkan kembali peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.

Perpustakaan dapat memperoleh koleksi media melalui dua cara yaitu: (a) membeli dari produsen yang khusus memproduksi media tertentu dan (b) memproduksi sendiri media sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jika membeli dari produsen media tertentu, maka perpustakaan perlu mempertimbangkan beberapa faktor yaitu: isi pesan/informasi, tujuan, kesesuaian, biaya, kualitas teknis, faktor pemakaian, uji coba dan validasi.

Medium overhead transparansi, misalnya memerlukan adanya faktor penunjang seperti aliran listrik dengan kapasitas yang sesuai, proyektor dan layar. Jika sebuah perpustakaan ingin membeli atau menggunakan medium tertentu, maka faktor penunjang untuk pemanfaatan medium tersebut perlu disediakan.

Penggunaan media dapat mengatasi masalah “ruang” dalam upaya individu memperoleh pengetahuan dan informasi. Pengetahuan dan informasi tentang suatu objek yang berada pada jarak yang jauh dapat dikomunikasikan melalui media tertentu. Medium slide suara, contohnya, dapat mengkomunikasikan informasi tentang Candi Borobudur pada pemirsa yang berada pada lokasi geografis yang cukup jauh.

MEDIUM AUDIO

Jenis dan Karakteristik Media Audio

Medium audio telah digunakan secara luas untuk merekam informasi yang penting. Perkembangan teknologi yang pesat pada medium audio dapat memberikan keuntungan yang besar bagi pemakainya. Media audio dapat dipergunakan untuk keperluan belajar secara berkelompok maupun individual. Media audio yang umum digunakan yaitu piringan hitam, compact disc (CD), open reel, dan kaset audio.

Kaset audio merupakan medium yang paling populer digunakan oleh pemirsa. Perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) dari medium ini berbentuk ringkas dan mudah dibawa (portable). Di samping itu medium ini juga mudah digunakan.

Karakteristik utama dari medium audio adalah merekam dan menyajikan unsur suara kepada pemirsanya. Oleh karena itu, media ini lebih tepat jika digunakan untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi yang akan disampaikan melalui indera pendengaran.
Pengembangan dan Produksi Media Audio

Program kaset audio merupakan medium yang relatif mudah diproduksi, namun demikian memerlukan persiapan yang matang. Untuk memproduksi sebuah program audio diperlukan adanya naskah. Dalam hal ini naskah berperan sebagai pedoman bagi seluruh kerabat kerja yang terlibat dalam kegiatan produksi. Sebuah naskah audio harus berisi informasi yang akan disampaikan disertai dengan pendekatan yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi tersebut. Naskah biasanya berisi informasi tentang alur cerita, pelaku, musik, dan efek suara, dan narasi yang akan dikomunikasikan kepada pemirsa.

Produksi program kaset audio dapat dilakukan melalui cara yang sederhana sampai dengan cara yang kompleks. Peralatan yang diperlukan untuk merekam sebuah program kaset audio yaitu:

    alat perekam berupa perekam kaset audio dan reel-to-reel recorder dan mikrofon (microphone);
    kaset audio (audiotape cassette) yang merupakan tempat suara direkam.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam produksi program kaset audio adalah upaya untuk mengurangi unsur suara lain yang tidak diperlukan (noise) terekam ke dalam program. Usahakan untuk mengurangi noise semaksimal mungkin agar unsur suara dapat terdengar jelas jika diputar ulang (playback).

MEDIUM TRANSPARANSI SEBAGAI MEDIUM YANG DI TRANSPARANSIKAN

Medium Transparansi

Medium transparansi merupakan salah satu media yang efektif untuk mengkomunikasikan informasi. Untuk menggunakan medium ini diperlukan adanya perangkat keras (hardware) yang berupa overhead projector. Medium transparansi dapat digunakan untuk mengkomunikasikan informasi berupa teks, data faktual, dan gambar. Di samping itu medium ini dapat digunakan untuk mengkomunikasikan informasi baik kepada kelompok kecil maupun kelompok besar pemirsa.

Bagi penyaji informasi, penggunaan medium transparansi akan memberikan beberapa keuntungan yaitu:

    Penjelasan informasi dapat menjadi lebih efektif melalui teks, gambar dan diagram.
    Penyaji dapat melakukan kontrol terhadap kecepatan penyampaian informasi.
    Penyaji dapat mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi secara bertahap.
    Informasi yang terdapat dalam medium transparansi dapat difoto copy.
    Dapat menggunakan warna untuk memperjelas komunikasi informasi.

Pemanfaatan Medium Transparansi

Untuk menayangkan medium transparansi ada tiga teknik yang dapat dipakai yaitu:

    teknik penayangan transparansi tunggal (single transparancy)
    teknik penayangan secara tumpuk (overlay transparancy)
    teknik penayangan buka tutup (masking transparancy).

Transparansi tunggal digunakan untuk menayangkan informasi, konsep dan pengetahuan dalam satu lembar transparansi. Transparansi tumpuk (overlay) digunakan untuk menyajikan informasi secara bertahap (gradual). Teknik penayangan transparansi secara tumpuk akan lebih tepat jika digunakan untuk menjelaskan tentang proses atau prosedur dan data tertentu yang menggambarkan adanya proses perkembangan atau tahapan. Transparansi buka tutup (masking) akan lebih tepat jika digunakan untuk menayangkan konsep yang mengandung perbedaan konsep di dalamnya.

Dalam membuat medium transparansi ada beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu:

    jangan terlalu banyak memuat informasi dalam medium transparansi
    gunakan huruf yang mudah dibaca dengan ukuran yang memadai
    gunakan lembaran transparansi yang bening dan bersih
    transparansi yang ditayangkan harus disusun secara sistematis.

MEDIUM SLIDE

Karakteristik Medium Slide

Program slide merupakan medium yang memiliki beberapa kesamaan dengan medium transparansi. Untuk menggunakan program slide diperlukan adanya sebuah proyektor yang berfungsi memproyeksikan gambar ke layar. Medium slide mampu memproyeksikan program lebih besar ke dalam layar. Oleh karena itu medium ini sangat tepat jika digunakan untuk keperluan penyajian informasi atau presentasi pada pemirsa dalam kelompok yang tidak terlalu besar. Namun demikian medium ini dapat juga digunakan untuk keperluan belajar secara individual. Untuk menggunakan medium slide ini tidak diperlukan ruangan yang gelap total.

Penggunaan medium slide dalam mengkomunikasikan pengetahuan dapat memberikan keuntungan bagi pemakainya, yaitu:

    dapat menayangkan informasi secara lebih realistik. Gambar yang ditampilkan akan terlihat mendekati objek yang sebenarnya;
    dapat mengkomunikasikan informasi secara sistematik dan fleksibel;
    mudah digunakan dan disimpan untuk berbagai keperluan presentasi;
    dapat digunakan untuk keperluan belajar baik secara individual maupun kelompok.

Selain memiliki kelebihan, medium slide ini juga memiliki keterbasan, yaitu:

    medium slide akan merepotkan pemakainya jika tidak dipersiapkan sebelumnya;
    medium slide memerlukan tempat dan perawatan khusus agar tidak mudah rusak.

Perencanaan dan Produksi Medium Slide

Program slide yang efektif mampu mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa. Untuk memproduksi sebuah program slide yang efektif diperlukan adanya proses perencanaan yang meliputi beberapa tahap seperti:

    tujuan yang akan dicapai,
    karakteristik pemirsa,
    isi pesan dan informasi,
    unsur gambar (visual) yang akan ditayangkan,
    unsur suara (audio) yang akan menyertai.

Untuk memproduksi sebuah program slide diperlukan adanya beberapa tahap produksi, yaitu:

    pemotretan (perekaman gambar),
    memproses film,
    membingkai film slide,
    menyunting atau memilih film slide yang akan ditayangkan,
    merekam suara ke dalam kaset audio
    uji coba program terhadap calon pemirsa.

MEDIUM VIDEO
Peran Medium Video Dalam Mengkomunikasikan Informasi

Medium video merupakan medium audio visual yang dapat mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa. Medium ini memiliki kesamaan dengan medium film yaitu mampu menayangkan informasi dan pengetahuan lewat perpaduan antara unsur gambar (visual) dan unsur suara (audio). Kemampuan ini memungkinkan medium video dapat menayangkan objek dan peristiwa menyerupai keadaan yang sesungguhnya.

Dalam mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa medium video memiliki beberapa kelebihan yaitu:

    dapat menambah wawasan pengetahuan,
    menyediakan informasi yang berguna,
    merangsang timbulnya minat tertentu,
    membantu pemirsa memberikan respon tertentu sesuai dengan yang diinginkan,
    mengatasi hambatan fisik dalam memperoleh pengetahuan dan informasi,
    mendorong upaya pemecahan masalah,
    membantu memperbaiki kesalahan dalam proses belajar.

Selain memiliki kelebihan, medium video juga memiliki beberapa keterbatasan dalam mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa. Keterbatasan tersebut yaitu:

    penyajian informasi berlangsung dengan kecepatan dan tetap,
    dapat menimbulkan kesalahan dalam melakukan interpretasi,
    memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk memproduksi sebuah program.

Medium video dapat dipergunakan untuk mengkomunikasikan informasi kepada pemirsa baik dalam kelompok maupun individu. Apabila diproduksi dengan standar tertentu medium ini dapat ditayangkan secara luas menjadi sebuah program televisi yang disiarkan (broadcasted television).

Pemilihan dan Produksi Program Video

Medium video telah lama digunakan sebagai sarana alternatif untuk memperoleh informasi dan pengetahuan bagi pengguna jasa perpustakaan. Perpustakaan dapat melakukan pengumpulan (koleksi) program video melalui dua cara yaitu: membeli dari perusahaan video komersial dan memproduksi sendiri sesuai dengan keperluan. Dalam membeli program video, perpustakaan perlu mempertimbangkan beberapa faktor yaitu:

    misi dan tujuan perpustakaan,
    karakteristik pengguna jasa perpustakaan,
    pendekatan pembelajaran yang digunakan,
    hambatan yang akan dihadapi dalam menggunakan program video.

Dalam memproduksi sebuah program video diperlukan beberapa tahap yaitu:

    perumusan gagasan,
    penulisan naskah dan storyboard,
    perekaman gambar ke dalam pita video (videotape),
    perekaman suara yang terdiri atas narasi, musik dan efek suara,
    penyuntingan gambar dan suara (editing),
    penggandaan program (duplicating).

Kemampuan perpustakaan dalam memproduksi program video bergantung kepada beberapa faktor yaitu:

    sumber daya manusia yang mampu memproduksi program video;
    memiliki peralatan produksi video yang memadai seperti kamera, VCR, lampu shoting, mikrofon untuk merekam suara, dan kaset video;
    memiliki naskah program video yang akan diproduksi;
    untuk mengkoleksi program video diperlukan biaya yang tidak sedikit. Harga program video relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan medium lainnya.

MEDIA YANG TIDAK DIPROYEKSIKAN

Gambar Diam dan Bahan Grafis

Bahan visual yang tidak diproyeksikan dapat dimanfaatkan sebagai medium untuk mengkomunikasikan informasi. Medium ini merupakan medium yang relatif murah jika dibandingkan dengan bahan visual yang diproyeksikan seperti transparansi, slide, dan film. Untuk tujuan mengkomunikasikan pengetahuan dan informasi, medium ini mudah diperoleh. Berbagai sumber seperti majalah, koran, jurnal, dan buku teks sering memuat medium ini.

Bahan-bahan visual ini merupakan media dua dimensi yang memerlukan proses pembesaran untuk digunakan terhadap sekelompok pemirsa. Banyak cara dan teknik yang dapat dipergunakan untuk membesarkan bahan-bahan visual, misalnya dengan menggunakan mesin foto copy dan reproduksi.

Bahan-bahan visual yang tidak diproyeksikan dapat diklasifikasikan menjadi:

    gambar diam (still pictures),
    bahan-bahan grafis (graphics materials),
    realia,
    model.

Gambar diam yang dimaksud dalam modul ini adalah gambar foto atau yang menyerupai gambar foto dan gambar yang merupakan representasi dari suatu objek dan peristiwa. Bahan-bahan grafis yang dapat dipergunakan sebagai media untuk mengkomunikasikan informasi meliputi: gambar, diagram, chart, grafik, poster, dan kartun.
Disain dan Produksi Gambar Diam dan Bahan Grafis

Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam memanfaatkan medium visual (poster, foto, diagram, dan chart) cara pertama yaitu memproduksi sendiri berdasarkan rancangan (design) yang telah dibuat sebelumnya. Cara yang kedua dilakukan dengan memanfaatkan bahan yang ada, yang dapat diperoleh dari buku, jurnal, majalah, dan bahan cetak lainnya.

Untuk dapat menggunakan medium visual secara efektif ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu:

    tujuan belajar (objectives)
    pemirsa (audience)
    biaya produksi (production cost)
    peralatan dan fasilitas produksi.

    Dalam membuat medium visual perlu juga diterapkan beberapa prinsip desain visual agar informasi yang ada di dalamnya mudah dipahami dan menarik untuk dipelajari. Prinsip desain visual terdiri atas:
    kesederhanaan
    kesatuan
    penekanan
    keseimbangan

MEDIUM TIGA DIMENSI

Realia dan Model Diorama

Realia dan Model merupakan alat penyampai informasi yang mempunyai sifat yang hampir sama. Perbedaan antara kedua medium tersebut terletak pada kenyataaan bahwa model digunakan sebagai medium informasi apabila tidak memungkinkan menghadirkan realia. Realia adalah medium informasi yang bentuk dasarnya adalah benda-benda nyata atau benda yang sebenarnya sedangkan suatu model dibuat sebagai contoh atau representasi dari suatu realia. Diorama adalah medium yang menampilkan realia dan model serta ditambah dengan medium visual sebagai latar belakangnya. Diorama merupakan sebuah pameran statis yang didesain untuk menggambarkan suatu pemandangan dalam kehidupan nyata yang terjadi di masa lalu, kini dan yang akan datang dalam bentuk tiga dimensi.

Kit, Multimedia, dan Simulasi

Sebagai alat penyampai informasi, multimedia kit banyak digunakan dalam proses belajar mengajar khususnya untuk bidang ilmu pengetahuan yang memerlukan keahlian khusus, misalnya praktikum IPA, Matematika, dan teknik. Pada umumnya kit merupakan paket yang berisi berbagai jenis media, misalnya medium cetak, filmstrip, realia, yang saling berhubungan dengan satu topik tertentu. Medium ini didesain untuk digunakan pengguna individual atau kelompok yang memiliki kebutuhan informasi yang sama. Kit multimedia dapat digunakan di kelas, di ruang perpustakaan dan di lokasi lain, dengan atau tanpa supervisi staf perpustakaan. Games dan simulasi adalah media informasi yang berbentuk suatu aktivitas, disusun berdasarkan aturan-aturan khusus dan memiliki parameter tertentu. Tujuannya adalah untuk menyelidiki dan merasakan aspek-aspek tertentu dari suatu prosedur, kejadian atau situasi tertentu. Dalam aktivitas ini, partisipan terlibat secara aktif dan proses belajar dikendalikan oleh mereka sendiri. Akibatnya, rasa mandiri dan tanggung jawab juga ikut terbangun. Di samping itu, motivasi dan keinginan belajar pun akan meningkat.

MEDIUM CETAK

Medium Cetak

Media cetak merupakan sekumpulan bahan-bahan informasi yang di cetak di atas kertas, dengan maksud untuk mencapai tujuan seperti memotivasi tingkat perhatian dan perilaku seseorang, menyampaikan informasi dan pengetahuan serta memberikan instruksi.

Kelebihan yang menonjol dari medium cetak adalah praktis penggunaannya dan lebih ekonomis. Sedangkan kelemahan medium cetak adalah tidak dapat menampilkan gerak dan suara seperti halnya pada medium audio-video dan kelemahan lain yaitu keterbatasan di dalam mengolah isi informasi karena tergantung kemampuan yang dimiliki oleh pembaca.

Secara umum fungsi medium cetak dapat dibagi menjadi tiga klasifikasi yaitu sebagai alat bantu belajar, bahan pelatihan, dan bahan informasi.

Penyimpanan Medium Cetak

Agar medium cetak tahan lama dan memudahkan bagi pengguna untuk menelusur kembali, maka perlu perhatian khusus dalam penyimpanannya.

Untuk memudahkan Anda dalam hal penyusunan suatu karya tulis, sebaiknya Anda perhatikan hal-hal sebagai berikut:

    Isi tulisan berupa ide, fakta, peristiwa
    Setiap ide diutarakan dalam suatu kalimat yang cepat dimengerti
    Kata-kata yang dipergunakan harus konsisten
    Pegunakanlah kalimat-kalimat yang pendek
    Tata bahasa dan tanda baca sesuai dengan peraturan yang ada
    Glosari perlu disisipkan dalam karya tulis tersebut.

PENYIMPANAN DAN PEMELIHARAAN MEDIA DAN PENUNJANG

Menyimpan Media di Dalam Perpustakaan

Dalam mengelola perpustakaan yang baik, di samping koleksi media informasi secara lengkap, tentunya hal yang sangat penting di sini adalah bagaimana sistem penyimpanan dan pemeliharaan media informasi tersebut. Semakin baik sistem penyimpanan dan pemeliharaannya maka akan memperkecil tingkat kerusakan yang mungkin timbul, serta membuat media informasi yang ada selalu siap pakai dan lebih tahan lama.

Ada dua sistem penyimpanan media informasi yaitu sistem akses terbuka dan tertutup. Kedua sistem tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk itu penggunaan sistem ini sangat tergantung dari kondisi perpustakaan yang ada. Sistem ini juga dapat digunakan secara terpadu. Tentunya penyesuaian-penyesuainan perlu dilakukan dalam rangka mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi yang diinginkan, sesuai dengan situasi dan kondisi serta lingkungan perpustakaan.

Pemeliharaan dan Alat-Alat Penunjang

Dalam menyimpan dan memelihara media informasi akan timbul berbagai masalah yang disebabkan oleh keanekaragaman media informasi yang ada. Oleh karena itu perhatian khusus harus diberikan pada faktor kerusakan, kehilangan, keamanan, dan lain-lain. Selanjutnya, yang juga harus mendapat perhatian karena bisa menjadi penyebab utama kerusakan media informasi adalah pemeliharaan alat-alat penunjang seperti monitor TV, sekering, microphone dan juga lingkungan perpustakaan itu sendiri.


KONTEKSTUAL

Defenisi kontekstual

Pendekatan pembelajaran menurut Syaiful (2003:68) adalah sebagai aktifitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran sebagai penjelas dan juga mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru, dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Pendekatan kontekstual dapat membuat variasi dalam pembelajaran dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai. Pendekatan pembelajaran tentu tidak kaku harus menggunakan pendekatan tertentu, artinya memilih pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang sering dipakai oleh para guru antara lain: pendekatan konsep dan proses, pendekatan deduktif dan induktif pendekatan ekspositori dan heuristik, pendekatan kecerdasan dan pendekatan konstektual.

Landasan filosofi pendekatan kontekstual adalah kontruktivisme, yaitu filisofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal tetapi mengkonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya (Masnur 2007:41). Tiap orang harus mengkontruksi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Dalam proses itu keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang ( Paul S 1996:29 ).

Depdiknas (2002:5) menyatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen, yakni: (1) kontruktivisme (Constuctivism), (2) bertanya (Questioning), (3) menemukan (Inquiri), (4) masyarakat belajar (Learning Community), (5) permodelan (Modeling), (6) Refleksi (Reflection), (7) penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).

Jonhson (2007:67) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran konstekstual atau CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah proses pendidikan yang menolong para siswa melihat makna dalam materi akademik dengan konteks dalam kehidupan seharian mereka, yaitu konteks keadaan pribadi, social, dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan ini sistem tersebut meliputi delapan komponen berikut: (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) melakukan pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pekerjaan yang diatur sendiri, (4) melakukan kerja sama, (5) berfikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, (7) mencapai standar yang tinggi, (8) menggunakan penilaian autentik.

Pendekatan kontektual atau Contextual Teching and Learning, Wina (2005:109) menjelaskan, suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual yaitu :

(a) Dalam pendekatan kontekstual pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiting knowledge).

(b) Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowlwdge).

(c) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk diyakini dan dipahami.

(d) Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan prilaku siswa.

(e) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.

Setiap bagian pendekatan kontekstual atau CTL yang berbeda ini akan memberikan sumbangan dalam menolong siswa memahami tugas sekolah. Secara bersama-sama mereka membentuk suatu sistem yang memungkinkan para siswa melihat makna di dalamnya, dan mengingat materi akademik.

Wina (2005:125) menjelaskan beberapa hal penting dalam pembelajaran melalui pendekatan kontekstual atau CTL sebagai berikut:

(a) CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.

(b) CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal akan tetapi porses pengalaman dalam kehidupan nyata.

(c) Kelas dalam pembelajaran CTL, bukan sebagai tempat memperoleh informasi, akan tetapi sebagi tempat untuk menguji data hasil temuan mereka dilapangan.

(d) Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri bukan hasil pemberian orang lain.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kata secara sederhana adalah sekumpulan huruf yang mempuyai arti. Namun dalam kamus besar nahasa Indonesia (KBBI) memilki “caratersendiri dalam mendefinisikan kata, pertama kata adalah unsure bahasa yangdiucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam bahasa. Pengertian kata juga sebanding dengan pengertian ujar atau biacara.

Kata adalah deretan huruf yangdiapit dua spasi dan mempunyai arti. Jika ditinjau darisegi bahada pengertian  kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan di anggap sebagai satuan terkecail yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas.

Kata depan atau preposisi berasal dari berasal dari bahasa Latin yang dibentuk oleh kata prae bearti ‘sebelum’ dan kata ponere bearti ‘menempatkan, tempat’). Dalam bahasa Inggris kata depan disebut preposition, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut voorzetsel. disebut kata depan karena kata depan digunakan di muka kata benda untuk merangkaikan kata benda itu dengan bagian kalimat lain. Istilah kata depan juga dipakai oleh Ramlan yang mempunyai arti: kata-kata yang berfungsi sebagai penanda dalam frase eksosentrik, secara semantik kata depan digunakan untuk menandai makna ’alat’, ’peserta’, ’cara’, ’asal’, ’bahan’, ’sebab’, ’alasan’, ’unsur’, dan ’perbandingan’.



Kata depan lebih dikenal dengan sebutan preposisi. Preposisi adalah kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa (Abdul Chaer, 2008: 96). Kata depan mempunyai fungsi sangat penting sebab turut serta mengarahkan arti atau maksud kalimat (Sudarno dan Eman, 1986: 30). Maksudnya, jika suatu kalimat harus menggunakan kata depan, tetapi kata itu tidak digunakan, maka arti kalimat akan berubah bahkan ada yang tidak dipahami lagi maknanya.

Dalam hal ini peneliti menganalisis kesalahan penggunaan kata depan “di” dalam skripsi bahasa Indonesia khususnya pada skripsi “kemampuan siswa menentukan unsur-unsur instrinsik yang terdapat pada cerpen”, karena masih kurangnya penelitian serupa yang dilakukan oleh mahasiswa bahasa Indonesia. Analisis ini bertujuan memeberikan layanan informasi mengenai penggunaan kata depan  dan dalam penulisan skripsi kedepannya menjadi lebih baik.



1.2         Rumusan Masalah



Dalam penelitian ini yang menjadi masalah adalah bagaimana menganalisis kesalahan-kesalahan penggunaan kata depan di dalam skripsi “kemempuan siswa menentukan unsur - unsur instrinsik yang terdapat pada cerpen”.



1.3              Tujuan Dan Manfaat

Dalam menganalisis kata depan di ini yang menjadi tujuan dan manfaat adalah :

1.      Untuk mengetahui kesalahan-kesalahan dalam menggunakan kata depan di   

pada skripsi.

2.      Sekaligus untuk perbaikan bagaimana penggunaan kata depan di  yang sebenarnya pada kalimat dalam skripsi.


BAB II

KAJIAN TEORI

2.1         Teori

Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan tentang kata depan, pada poin keenam dijelaskan bahwa kata depan di,ke dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim.

Misalnya :

Bermalam sajalah di sini

Di mana dia sekarang?

Kain itu disimpan di dalam lemari



Kata depan adalah kata yang menghubungkan kata benda dengan kata lain, serta sangat menentukan sekali sifat penghubungnya. Kata depan erat hubungannya dengan kedudukan, arah, maupun tujuan. Kata depan dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, diantaranya Kata depan sejati (Di, ke, dari). Kata depan ini dipergunakan untuk merangkaikan kata-kata yang merangkaikan tempat dan sesuatu yang dianggap tempat.

Contoh :

Di Sidoarjo,

ke pasar,

dari sekolah dll.

Dalam bahasa Indonesia, "di" memunyai dua fungsi. Pertama, sebagai prefiks (awalan) dan kedua sebagai preposisi (kata depan). Kedua fungsi yang berbeda ini kerap dikacaukan dalam penggunaannya.

Sebagai prefiks, "di" selalu diikuti oleh verba (kata kerja) dan ditulis serangkai dengan verba tersebut. Sebagai preposisi, "di" selalu diikuti oleh kata yang menerangkan tempat. Dalam hal ini, "di" ditulis terpisah dari keterangan tempat yang mengikutinya.

Contoh prefiks: ditulis, dimakan, dan didorong.

Contoh preposisi: di jalan, di kantor, dan di Bandung.

Untuk keterangan tempat yang lebih spesifik, preposisi "di" mendapat tambahan kata yang sesuai dengan kekhususan tersebut, seperti atas, bawah, luar, dalam, muka, dan belakang. Dalam konteks ini, preposisi "di" tetap ditulis terpisah dari kata tambahan tersebut.

Perhatikan contoh berikut:

Di meja, di kantor, di sekolah, di masjid, dan di rumah (tidak khusus). Adapun, di atas meja, di luar kantor, di depan sekolah, di belakang masjid, dan di dalam rumah (khusus).

Preposisi "di" juga ditulis terpisah jika diikuti kata-kata, seperti antara (di antara), mana (di mana), sana/sini (di sana/sini).

Preposisi "di" tidak boleh digunakan untuk menunjukkan waktu. Sebagai gantinya, digunakan preposisi "pada".

Perhatikanlah contoh berikut:

Di zaman Sriwijaya, di era pembangunan, di masa revolusi, di bulan yang lalu, dan di senja hari (tidak sesuai dengan kaidah). Seharusnya: pada zaman Sriwijaya, pada era pembangunan, pada masa revolusi, pada bulan yang lalu, dan pada senja hari (sesuai dengan kaidah).

Jika ada keterangan waktu yang menggunakan preposisi "di", biasanya hal semacam itu terdapat dalam sajak atau syair. Penyair memang memiliki kebebasan yang dikenal dengan sebutan licentia poetica. Kadang-kadang seorang pnnyair harus menyusun kata-kata untuk mendapatkan keseimbangan bunyi yang dapat melahirkan rasa keindahan. Dalam prosa dan esai, tidak boleh digunakan preposisi "di" untuk menunjukkan waktu. Larik berikut dibolehkan berdasarkan licentia poetica: di senja yang kelam ... di musim yang silam .... Kalau diukur dengan kaidah bahasa Indonesia, nukilan larik itu seharusnya berbunyi: pada senja yang kelam ...pada musim yang silam ....

Preposisi "di" tidak digunakan jika diikuti oleh kata ganti orang, seperti saya, dia, kamu, mereka, ayah, ibu, dan kakak. Sebagai gantinya, digunakan kata depan "pada".

Perhatikan contoh berikut:

"Bukumu ada di saya" atau "Titipkan bukuku di Sandri" (tidak sesuai dengan kaidah). Adapun, "Bukumu ada pada saya" atau "Titipkan bukuku pada Sandri" (sesuai dengan kaidah).

Preposisi "di" tidak digunakan jika yang mengikutinya adalah kata benda abstrak (niskala/tak berwujud). Sebagai gantinya, digunakan preposisi "pada", kadang-kadang dapat juga digunakan preposisi "dalam".

Perhatikan contoh berikut:

Di pertandingan itu, di pikirannya, di pertemuan itu, dan di kesempatan ini (tidak sesuai dengan kaidah). Adapun, pada (dalam) pertandingan itu, pada (dalam) pikirannya, pada (dalam) pertemuan itu, dan pada (dalam) kesempatan ini (sesuai dengan kaidah).

Kata depan "di" tidak digunakan jika keterangan tempat didahului oleh angka (jika kata depan itu diikuti oleh angka),

Misalnya :

Di Sebuah Kapal, di dua kamar dipasang, di banyak kantor, dan di lima kota (tidak sesuai dengan kaidah). Adapun, Pada Sebuah Kapal (judul novel Nh. Dini), pada dua kamar dipasang, pada banyak kantor, dan pada lima kota (sesuai dengan kaidah).

Kata depan "di" tidak digunakan jika diikuti oleh keterangan tempat yang tidak sebenarnya,

Misalnya:

Di wajahmu kulihat bulan, Sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi dapat menyebabkan sakit gigi, Peganglah kepalanya dengan satu tangan di dagu dan satu tangan di dahi, dan Pasanglah penghalang di sisi kiri dan kanan tangga (tidak sesuai dengan kaidah). Adapun, Pada wajahmu kulihat bulan, Sisa makanan yang tertinggal pada sela-sela gigi dapat menyebabkan sakit gigi, Peganglah kepalanya dengan satu tangan pada dagu dan satu tangan pada dahi, dan Pasanglah penghalang pada sisi kiri dan kanan tangga (sesuai dengan kaidah).

2.2     Metode

Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian ini yang telah dijabarkan, maka metode yang digunakan metode sebagian karena hanya terfokus pada penggunaan kata depan di.

3.1  Data

Tabel data kesalahan penggunaan huruf kapital dalam skripsi yang berjudul kemapumuan siswa menentukan unsur-unsur instrnsik cerpen  Siswa Kelas VIII Smp Negeri 2 Kendari :



No
   

Data yang salah
   

Seharusnya


   

Dari pengertian diatas dapatlah dipakai bahwa alur cerita adalah rangkaian peristiawa yang direka atau diungkapkan dalam sebuah cerita
   

Dari pengertian di atas dapatlah dipakai bahwa alur cerita adalah rangkaian peristiawa yang direka atau diungkapkan dalam sebuah cerita

2.
   
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pemerolehan presentase kemampuan siswa dapat di lihat pada table
   

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pemerolehan presentase kemampuan siswa dapat dilihat pada tabel


3.2  Analisis

Untuk keterangan tempat yang lebih spesifik, preposisi "di" mendapat tambahan kata yang sesuai dengan kekhususan tersebut, seperti atas, bawah, luar, dalam, muka, dan belakang. Dalam konteks ini, preposisi "di" tetap ditulis terpisah dari kata tambahan tersebut. Maka penilisan kata di atas pada kalimat (Dari pengertian diatas dapatlah dipakai bahwa alur cerita adalah rangkaian peristiawa yang direka atau diungkapkan dalam sebuah cerita), tersebut keliru. Seharusnya penulisan kata di atas terpisah seperti pada table kolom kedua di atas

Terdapat juga kekeliruan pada penulisan kata dilihat seperti pada kalimat (Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pemerolehan presentase kemampuan siswa dapat di lihat pada table) yang seharunya penulisan kata dilihat tidak boleh dipisahkan karena kata ini tidak menunjukan tempat karena dalam bahada indonesia penulisan preposisi “di” ditulis apabila Untuk keterangan tempat. Yang lebih spesifik, preposisi "di" mendapat tambahan kata yang sesuai dengan kekhususan tersebut, seperti atas, bawah, luar, dalam, muka, dan belakang. Dalam konteks ini, preposisi "di" tetap ditulis terpisah dari kata tambahan tersebut.


Tugas



ANALISIS KESALAHAN BAHASA






O L E H

S  U S  R  I

A1 D3 09 091





PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2012